Minggu, 12 Februari 2012

Susahnya minta tanda tangan PA

Gila, susah banget ya mau minta tanda tangan PA di seberkas kertas A4 yang memuat daftar rencana studi satu semester ke depan. Gimana gak? 2x membuat janji dan si dosen membatalkannya begitu saja. Inilah kronologis susahnya minta tanda tangan sang PA.

> Rabu, 8 Februari 2012: Gue bersama 3 orang teman lainnya telah membuat janji untuk minta tanda tangan KRS di rumah beliau jam 16.00 WIB. Hari itu kami menghabiskan 6 SKS dan baru kelar pukul 13.30. Jarak kampus ke rumah sang dosen memakan waktu 1,5 jam jika kondisi lalu lintas lancar. Beginilah resiko memiliki kampus yang letaknya 32 KM dari kota Palembang apalagi gue menjalaninya PP (pulang-pergi,red). Rasa takut akan membayar keterlambatan dengan menunggu sang dosen menghantui empat mahasiswa yang baru menjalani dunia kampus selama 7 bulan. Kita berangkat dari Indralaya pukul 14.15 setelah mengisi perut yang luar biasa lapar akibat melahap materi algoritma dan flowchart. Kita memutuskan untuk naik bis dengan trayek Indralaya-Palembang Square dan duduk di bangku deretan belakang agar semilir angin yang menyejukan menampar pipi. Sepanjang perjalanan, gue tertidur pulas. Saking pulasnya, gue baru bangun ketika perjalanan pulang menyisakan waktu sekitar 15 menit lagi. Dan akhirnya kita sampai di rumah sang dosen pukul 15.45 setelah mempercepat langkah kaki agar datang tepat waktu. Kami membuka pintu pagar dan memberikan salam "assalamualaikum" sepertinya tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalam rumah yang bercat putih itu. Lalu kami memberikan salam kembali "assalamualaikum". Barulah terdengar suara pintu dibuka dan keluarlah seorang ibu paruh baya mengenakan daster biru dengan rambut sebahu "ada apa nak?" Kita pun serempak menjawab "mau ketemu pak I*d**,bu". Wanita yang diketahui adalah istri sang dosen segera menutup pintu setelah mendengar jawaban dari mahasiswa yang tenggorokannya haus akan air dan membawa sepenggal informasi yang mengenaskan hati "Langsung temui bapak saja di kampus besok karena beliau akan  menyidang mahasiswa akhir".Pulang lah gue bersama 3 teman yang lainnya sambil menggerutu gak jelas. 

> Kamis, 9 Februari 2012: Voila! Gue bersama 3 teman lainnya telah berada di deretan mahasiswa tingkat akhir yang mencoba mempertahankan skripsi mereka di depan dosen penguji. Kami menggunakan layanan short message service untuk memberitahukan sang dosen jika kami telah berada di depan ruang sidang dan menanyakan kesediaan beliau untuk membubuhkan tanda tangannya di KRS yang kami ambil. 5 menit berlalu, tidak ada balasan dari sang dosen. 15 menit berlalu, masih tidak ada tanda-tanda kehidupan di layar handphone. 25 menit kemudian, datanglah sms balasan yang dinanti "saya sedang sidang, besok saja temui saya". OMG, gak jadi lagi. Gak tahu apa kalo kita sudah gondok.Gak bisa ya keluar sebentar dari ruang sidang untuk menemui mahasiswa yang kecewa ini. Bak di sambar petir, gue pun pulang dengan tangan hampa sambil menguatkan hati yang remuk redam.
#hiperbola:D
Dan alibi gue yang menyatakan kalo susahnya minta tanda tangan PA semakin menguat setelah gue dan teman yang lainnya berusaha membuat appointment dengan sang dosen dan kembali berakhir tragis. Dua suku kata yang gue baca "BESOK SAJA" serasa membakar kedua bola mata. Rasanya ngenes banget.Serasa ditimpa 2 truk berisi rambutan.