Akhirnya
gue lulus SMA (la la ye ye la la ye ye):D. Gak sabar menyandang status
mahasiswa. Good bye putih abu-abu, good bye masa-masa alay dan labil. Selamat
datang di dunia civitas akademika universitas. HIDUP MAHASISWA!
Dunia yang bisa membuat hidup lulusan
siswa-siswi SMA semakin berwarna, berdarah-darah dan mengharu biru persis sinetron
yang sering disaksikan di layar kaca tanpa keputusan ending yang jelas. Konflik
dan intrik menghiasi kehidupan kampus. Banyak
banget yang nanya apa sih bedanya kuliah sama SMA. Pasti mikirnya ‘enak
kayaknya kuliah, gak perlu pake seragam, gak perlu belajar sama pelajaran yang
gak sesuai dengan minat, gak perlu pake acara di jemur dilapang, membersihkan
setiap sisi sekolah, atau lari keliling lapangan kalo telat (pengalaman gue
waktu SMA) dan gak perlu dimarahi kalo gak buat tugas’
Pikiran calon mahasiswa ini salah total:D!
A day without assignment is wasted when
you have been collegian! The lecturer doesn’t want to miss the process of
giving and correcting assignments. Dosen itu suka banget ngasih tugas kalo
sudah mendekati akhir perkuliahan. Gak tanggung-tanggung, tugas yang diberikan
layaknya perjalanan menaiki moda transportasi, kereta api. Panjang dan cepat. Alhasil,
minggu tenang yang direncanakan untuk fokus mengulang materi kuliah terganggu
akibat deadline pengerjaan dan pengumpulan tugas. Kalian akan merasakan
nikmatnya menjalani kehidupan kampus kalo gak ada tugas bejibun tertumpuk di
meja belajar. Satu hari tanpa tugas seperti merayakan lebaran:D.
Kuliah itu bagaikan bumi dan langit. Berbanding
terbalik dengan kehidupan SMA yang asik dan seru. Kuliah itu harus mandiri.
Mandiri mengerjakan tugas, mandiri bergaul, dan mandi sendiri (lho:D). Jangan
harap disuapin info terus-terusan. Sikap kalian yang masih manja mesti
diubah. Ingat ya, MANDIRI! Dosen
menganggap mahasiswa sebagai seseorang yang haus akan ilmu. Dosen hanyalah
fasilitator, cukup menjelaskan. Perkara mengerti atau tidak kembali kepada
kemampuan setiap orang. Gak ngerti
dengan penjelasan dosen, bisa bertanya sama teman, kakak tingkat, atau
membaca referensi lain. Sedikit menyebalkan sih tapi diasikkin aja. Dosen
beranggapan kita sudah dewasa.
Waktu SMA, ada semacam ‘pengertian’ antar
guru kalo kita lupa membuat tugas. Tinggal berikan alasan dan berjanji untuk
mengumpulkannya di pertemuan berikutnya. Kalo kuliah, jangan harap bisa
menemukan dosen yang sifatnya pengertian. The
one and only kalo ada dosen yang punya sifat seperti ini. Satu dalam
seribu. Dosen ini ngasih tugas minggu depan, dosen itu ngasih tugas buat minggu
depan juga. Kalian gak bisa bilang kepada dosen untuk mengundurkan jadwal
pengerjaan dan pengumpulan tugas. Gak jadi masalah sih kalo kalian gak buat
tugas, resikonya siap-siap aja gak lulus mata kuliah itu. Kok bisa? #pasti bisa
lah. Mau tahu jawabannya? (tunggu ya:p) . Bobot penilaian apakah kita lulus
mata kuliah yang diambil atau tidak berlandaskan tiga aspek dengan presentasi yang
berbeda. Tugas 25%, UTS 30%, dan US 45
%. Kalo kalian mau lulus mata kuliah itu, kalian harus rajin mengerjakan dan
mengumpulkan tugas yang diberikan oleh dosen. Meskipun persentasi bobot
penilaiannya kecil tapi tugas bisa menyelamatkan kalian. Anggap saja
mengerjakan tugas itu seperti menabung.
Mengenali karakter setiap orang yang bersinggungan
dengan dunia perkuliahan itu penting. Mulai dari dosen hingga teman. Tapi ingat
gak boleh mendekati mereka (baca: dosen) seperti penjilat. Sewajarnya aja.
Memilih teman juga gak asal pilih. Cari teman yang bisa memacu nilai kompetisi
dan kreativitas kalian. Terpenting yang bisa memberikan masukan positif untuk
mengembangkan diri lebih maju. Bukannya menjerumuskan. Intinya sih, mesti
pandai membawa diri agar tidak hanyut selama menjalani proses perkuliahan. Carilah teman yang bahu membahu
membanu mencapai tujuan masing-masing, bukannya yang menyikut untuk mencapai
tujuan sendiri. Jadilah teman yang bisa diandalkan!
“Penting gak sih ikut organisasi?” Ini
pertanyaan penting yang dilontarkan oleh adik lulusan SMA yang suka berorganisasi.
Jawaban gue sih, ikut organisasi itu pilihan,dan setiap pilihan itu ada
konsekuensinya. Kalian pasti sudah tahu positif dan negatifnya bergabung di
dunia organisasi. Mulai dari banyak pengalaman dan relasi hingga susah membagi
waktu. Tapi sayang banget, kalo gak ikut organisasi. Kalian jadi gak punya
softskill. Softskill itu penting ketika kalian telah menjadi sarjana. Kalo ada
yang beranggapan ikut organisasi membuat proses perkuliahan terhambat, salah
besar. (baca: IPK turun, nilai jeblok, de-el-el). Saran gue balik ke diri
kalian, ukur batas kemampuan jangan memaksakan. Kalo merasa berat untuk membagi
waktu saat mengikuti organisasi, lebih baik kalian fokus kuliah.
Saat mengikuti dunia perkuliahan, batasi
ekspektasi. Hidup gak melulu seneng. Ada masa downnya. Istilah kerennya sih
galau. Disinilah, cara kalian bersikap diuji dan sangat menentukan. Kalo selama
SMA, kalian biasa menjadi bintang kelas dan waktu kuliah nilai-nilainya kurang
bagus, ya mesti diterima. Sadari kalo masih ada yang lebih dari kalian. Cepat
bangkit kalo sudah terpuruk dengan situasi ini, jangan biarkan diri kalian
larut dalam kekecewaan mendalam. Mematok target harus tinggi tapi ekspektasi
harus diturunkan seminimal mungkin. Berusaha, berdoa, dan lapang dada!
Kuliah itu pilihan. Pilihan yang baik
untuk merangkai masa depan yang gemilang. Nikmati setiap proses yang kalian
jalani. Kata dosen gue sih “cintai dengan sepenuh hati”. Semoga postingan gue
kali ini bermanfaat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar