Sepertinya dunia ini akan sepi tanpa kehadiran para alayers. Eksistensinya gak cuma di dunia nyata tapi juga di dunia maya. Virusnya juga tidak hanya menyebar di kota-kota besar dengan segala sisi gelap dan terangnya tapi sudah merasuk ke kampung-kampung yang letaknya jauh dari pusat perkotaan. Di gang-gang kecil nan sempit, jalanan berdebu yang bercampur asap kendaraan bermotor, pusat-pusat perbelanjaan yang dipenuhi dengan kegiatan ekonomi, bahkan di lembaga pendidikan formal dan informal sekalipun, para alayers ini tetap saja bisa ditemukan. Mengenali mereka cukup mudah kok, lihat saja dari penampilan luar mereka yang bisa dibilang norak atau gak banget. Mereka pikir mereka itu keren?
Saya cuma bisa menggelengkan kepala melihat tindakan bodoh yang mereka lakukan hanya untuk menunjukkan eksistensi diri sendiri. Mereka terlalu sibuk mengubah penampilan agar terlihat super duper keren dan membicarakan diri sendiri lewat mulut mereka. Talk more do less adalah slogan para alayers. Berbicara tapi sedikit tindakan. Mereka telah melupakan esensi dari eksistensi karya yang berhasil mereka ciptakan. Tuhan eksis karena apa yang Dia ciptakan, bukan karena apa yang Dia bicarakan. Sama halnya dengan manusia, manusia eksis karena ada karya yang dihasilkan dan diapresiasi oleh orang lain.
Jika ada diantara kalian mulai merasa terjangkit penyakit jiwa ini, segeralah hentikan penyebaran virusnya. Mau eksis gak perlu menjadi alayer. Jadilah diri sendiri dengan segala kelebihan dan kekurangan dimiliki. Tunjukkan eksistensi dengan sebuah karya yang memberikan inspirasi bagi orang lain. Biarkanlah karya menggaungkan nama kalian. Lagian, gak ada untungnya juga jadi seorang alayer. So, stop being alayers!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar